Showing posts with label asy'ariyah. Show all posts
Showing posts with label asy'ariyah. Show all posts

Monday, April 22, 2019

(Muhammad Khabib) Asy Ariyah


Muhammad Khabib/KPI A2/B91217080
Ilmu Kalam/Asy’ariyah
Asy’ariyah

A.    Objek Kajian
1.      Objek Material      : Ilmu Kalam
2.      Objek Formal        : Ilmu Kalam dalam Doktrin dan Sistem Politik Asy’ariyah
Latar belakang Asy’ariyah berubah pendirian dari kedudukannya sebagai pembela kaum Mu’tazilah menjadi pembela kaum salaf di kalangan ulama yang terjadi perselisihan dan telah menjadi perdebatan yang terus berkembang[1]. Berangkat dari latar belakang tersebur, Asy’ariyah menjadikan pendapat-pendapatnya umtuk menyerang kaum Mu’tazilah  dan menjadi paham atau aliran yang berdiri sendiri setelah selama kurang lebih empat puluh tahun sepemikiran dengan Mu’tazilah. Adapun beberapa pemikiran teologi dari Asy’ariah adalah sebagai berikut :
a.       Konsep Ketuhanan dan Hakikat tentang Tuhan
Menurut kamu Asy’ariyah, tidak dapat dingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat karena perbuatan-perbuatannya, disamping menyatakan bahwa Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa dan sebagainya, juga mempunyai pengetahuan, kemauan dan daya. Menurut al-Baghdadi, terdapat kesepakatan bahwa sifat-sifat Tuhan tersebut adalah kekal. Sifat-sifat Tuhan tersebut tidaklah sama dengan esensi Tuhan, tapi berwujud dalam esensi itu sendiri. Sebagai contoh, jika dikatakan bahwa Tuhan itu Yang Maha Mengetahui (al-‘Alim) maka arti disini adalah makhluklah yang menetapkan sifat Yang Maha Mengetahui pada Allah, dan yang mengetahui itu adalah zat-Nya[2]. Pada intinya, pada ajaran Asy’ariyah ini mengajak pada manusia untuk tidak memahami sifat-sifat ketuhanan secara harfiyah namun harus dipahami dengan cara abstraksi.
b.      Konsep Keimanan
Menurut kaum asy’ariyah, mereka berkeyakinan bahwa akal manusia tidak bisa sampai kepada kewajiban mengenai tuhan. Iman tidak bisa mengenai ma’rifat atau amal. Manusia dapat mengetahui kewajiban itu hanya melalui wahyu. Wahyulah yang menerangkan dan mengatakan pada manusia, bahwa ia berkewajiban mengetahui tuhan dan manusia harus menerima kebebasan ini. Oleh karena itu, iman bagi kaum asy’ari ialah tasdiq dan batasan iman ialah-tasdiq bi allah, yaitu menerima sebagai benar kabar tentang adanya tuhan.
c.        Qadimnya Al-Qur’an
Mu’tazilah mengatakan bahwa Al-Qur'an diciptakan (makhluk) sehingga tak qadim serta pandangan mazhab Hambali dan Zahiriah yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah (yang qadim dan tidak diciptakan). Zahiriah bahkan berpendapat bahwa semua huruf, kata dan bunyi Al-Qur'an adalah qadim. Dalam rangka mendamaikan kedua pandangan yang saling bertentangan itu Al-Asy’ari mengatakan bahwa walaupun Al-Qur'an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim.
d.      Melihat Allah
Al – Asy’ari tidak sependapat dengan kelompok Otodoks ekstrem, terutama Zahiriah, yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di ‘Arsy. Selain itu, Al-Asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengingkari ru’yatullah di akhirat. Al-Asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi ketika Allah menyebabkan dapat dilihat atau Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.
e.      Keadilan
Pada dasarnya Al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam cara pandang makna keadilan. Al-Asy’ari tidak sependapat dengan ajaran Mu’tazilah yang mengharuskan allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan member pahala kepada orang yang berbuat baik. Al-Asy’ari berpendapat bahwa allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah Penguasa Mutlak. Jika Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki dirinya, sedangkan Al-Asy’ari dari visi bahwa allah adalah pemilik mutlak.
f.       Kedudukan Orang Berdosa

Premis 1 : Asy'ariyah muncul untuk melawan pemikiran dari Mu'tazilah.
Premis 2 : Ajaran Asy'ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat karena perbuatan-perbuatanNya.
Premis 3 : Ajaran Asy'ariyah berpendapat bahwa Al-Qur'an terdiri atas kata-kata, huruf, bunyi. Semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim.
Premis 4 : Ajaran asy'ariyah berpendapat bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan Allah bersemayam di Arsy.
Premis 5 : Ajaran asy'ariyah berpendapat bahwa Allah tidak memiliki keharusan apapun sebab Ia Maha Penguasa serta Allah pemikik yang mutlak.
Premis 6 : Ajaran asy'ariyah berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik. Imannya tidak hilang kecuali melakukan dosa secara kufur.

Konklusi : kelompok asy'ariyah muncul sebagai bentuk utuk melawan pemikiran mu'tazilah. Diantara pemjkirannya adalah bahwa ajaran asy'ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat karena perbuatanperbuatanNya, Al-Qur'an bukan merupakan makhluk Allah dimana itu berlawanan dengan pendapat mu'tazilah, Allah dapat dilihat di akhirat dan Ia bersemayam di Arsy, Allah tidak pula memiliki keharusan apapun karena sifatNya Yang Maha Penguasa, serta seorang mukmin yang berbuat dosa kecuali dosa kifur tetap menjadi mukmin. Namun sebagai mukmin yang fasik.





                [1] Fathul Mufid, Menimbang Pokok-Pokok Pemikiran Teoligi Imam Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidi, Fikrah, Vol. 1 No. 12, 2013.
                [2] Diakses dari  http://hikmahpsikologku.blogspot.com/2014/01/pemikiran-teologi-asyariyah.html   pada tanggal 18/03/2019 pukul 21;08 WIB

Read more

Wednesday, April 10, 2019

[Hariri] Asy'ariyah dan Pemikirannya

Asy’ariyah dan Pemikirannya
Objek Kajian :
Kajian Material : Ilmu Kalam
Kajian Formal : Corak corak Pemikiran Asy’ariyah

Aliran ini diturunkan kepada pendirinya Imam abul hasan ali bin ismail al-asy'ari, masih keturunan dari sahabat besar Abu Musa Al'Asyari. Dia lahir dikota Basrah tahun 260 H (873 M) dan wafat tahun 330 H (943 M). Mula-mula berguru kepada pendekar Mu'tazilah waktu itu, bernama Abu Ali Al-Jubbai. Memang sejak semula Al-Asy'ari ini adalah pengikut paham mu'tazilah, yang pada akhirnya lebih mengarah kepada pendapat ahli-ahli fiqih dan hadits pada usia 40 tahun. Dia bersembunyi dirumahnya untuk merenungkan dan mempertimbangkan selama 15 hari di Masjid Basrah, secara resmi menyatakan pendiriannya keluar dari Mu'tazilah dan merumuskan suatu aliran teologi islam baru yang kemudian dinamai dengan namanya sendiri.
Al-Asy’ariyah kemudian berkembang menjadi salah satu aliran teologi yang penting dalam Islam. Dalam rangka mengimbangi aliran Mu’tazilah, maka Imam Abu Hasan al-Asy’ari tampil membela aqidah Islam. Para pengikutnya, menyebut gerakan Imam al-Asy’ari ini sebagai Ahlussunnah wa al-Jama’ah.

Dalam suasana kemuktazilahan yang keruh, muncullah al-Asy‘ari, dibesarkan dan didik serta berguru pada al-Jubbai, seorang tokoh Muktazilah sampai mencapai umur lanjut. Ia telah membela aliran Muktazilah sebaik-baiknya. Akan tetapi aliran tersebut kemudian ditinggalkannya bahkan memberinya pukulan-pukulan hebat dan menganggapnya lawan yang berbahaya.
Sebab utama ia meninggalkan aliran Muktazilah karena terjadinya perpecahan antara kaum muslimin yang dapat menghancurkan mereka kalau tidak segera di-akhiri, ia sangat mengkhawatirkan Qur’an dan hadis menjadi korban paham-paham Muktazilah, yang menurut pendapatnya tidak dapat dibenarkan karena didasarkan atas pemujaan akal pikiran. Sebagaimana juga dikhawatirkan menjadi korban sikap ahli hadis antrhopomorphis yang hanya memegangi nash-nash dengan meninggal-kan jiwanya dan hampir menyeret Islam kepada kelemahan, kebekuan yang tidak dapat dibenarkan agama.
Menurut Ahmad Mahmud Subhi, syaknya Asy’ari yang menimbulkan Asy’ari keluar dari Mu’tazilah adalah dikarenakan Asy’ari bermadzhab Syafi’i yang dimana pendapat teologi Syafi’i itu berlainan dengan ajaran – ajaran Mu’tazilah.
Adapun faktor yang  menyebabkan Asy’ari keluar dari Mu’tazilah, yaitu :
Pengakuan Asy’ari yang telah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad sebanyak 3x, yaitu pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 di Bulan Ramadhan.
 Asy’ari menemukan adanya beberapa pandangan yang kontroversial dalam aliran Mu’tazilah.

Oleh karena itu, Asy‘ariyah mengambil jalan tengah antara golongan rasionalis dan golongan tekstualis, ternyata jalan tersebut dapat diterima oleh mayoritas kaum muslimin. Asy’ariyah tidak menjauhkan diri dari pemakaian alat pikiran dan argumentasi pikiran yang tugasnya tidak lebih dari memperkuat nash-nash al-Quran dan hadist.
Terdapat beberapa para tokoh dan pembesar Al Asy’ariyyah jatuh dalam kebingungan, mereka keluar dari pemikiran Al Asy’ariyah. Diantaranya adalah Al Juwaini, Ar Razi, Al Ghazzali dan lainnya.

Pemikiran Asy’ariyah
Adapun corak pemikiran Asy‘ariyah mengenai perbuatan manusia hubungan-nya dengan kehendak dan kekuasaan Tuhan ia namai dengan istilah kasb (peroleh-an/perbuatan). Menurutnya, kasb adalah ciptaan Allah. Dapat disimpulkan bahwa Tuhan pencipta semua perkara manusia berarti Tuhanlah pembuat semuanya pula. Perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan ada-lah berarti manusia sebenarnya merupakan tempat bagi perbuatan Tuhan.
Akhirnya, bagi kaum Asy‟ariyah Tuhan tidak terikat kepada apapun, tidak terikat kepada janji-janji, apalagi kepada norma-norma keadilan. Tuhan juga tidak mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap manusia sebagaimana aliran Mu‟tazilah yang mengakibatkan Tuhan terikat dengan kewajiban-kewajiban tersebut.
Oleh karena itu, tampak bahwa tidak terdapat perbedaan-perbedaan antara perbuatan gerakan terpaksa dengan kasb manusia. Kedua jenis perbuatan tersebut di-buat oleh Tuhan. Dengan begitu, tampak jelas bahwa manusia sangat dekat dengan paham predestination. Mereka tidak mempunyai kekuasaan atas semua perbuatannya karena Allah pencipta atau pembuat yang sebenarnya. Jadi,pada dasarnya, sesuatu yang dikehendaki oleh Allah akan terjadi sedang sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.

Dalam pemakaian akal, Asy‘ariyah menggunakannya secara seimbang dengan wahyu, tidak berlebihan seperti halnya Muktazilah. Namun, tampaknya ia lebih memprioritaskan wahyu ketimbang akal. Dalam mengomentari empat masalah; me-ngetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan, mengetauhi baik dan jahat dan kewa-jiban mengetahui baik dan jahat. Hanya satu yang dapat diketahui akal, yaitu menge-tahui Tuhan. Tiga hal lainnya hanya dapat diketahui melalui informasi wahyu.
Persoalan sifat-sifat Allah, merupakan maslaha yang banyak dibicarakan oleh ahli teologi Islam. Berkaitan dengan itu berkembang dua teori yaitu: teori is\bat al-sifat dan naïf> al-sifat. Teori pertama mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat, seperti, mendengar, melihat dan berbicara. Teori inilah yang dianut oleh kaum Asy’ariyah. Sementara teori kedua mengajarkan bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat. Teori tersebut dianut oleh kaum Mu’tazilah dan para ahli ahli falsafah.
Pemikiran Teologi Al-Asy’ari
Inti pokok teologi Al-Asy’ari adalah Sunnisme. Hal ini dikatakan sendiri dalam bukunya, misalnya dalam al-Ibanah. Bahwa pedoman yang dianutnya adalah berpegang teguh kepada kitab al-Qur’an, sunnah Rasul dan riwayat (shahih) dari para sahabat, tabi’in dan pemuka hadist. Di samping itu, ia juga akan mengikuti fatwa Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hambal (Al-Asy’ari, tt: 8).
Premis :
Pendiri Asy’ariyah yakni Imam abul hasan ali bin ismail al-asy'ari mulanya merupakan pengikut paham Mu’tazilah
Karna adanya rasa takut apabila Al-Qur’an dan Hadist terpengaruh oleh paham Mu’tazilah yang pemikirannya mengedepankan akal pikiran, munculah pemahaman Asy’ariyah yang dibela oleh Imam abul hasan ali bin ismail al-asy'ari
Asy’ariyah berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan pemikiran yang seimbang antara aql dan nash
Konklusi :
Asy’ariyah sebagai salah satu aliran teologi dalam Islam yang didirikan oleh Imam abul hasan ali bin ismail al-asy'ari keturunan dari sahabat besar Abu Musa Al'Asyari. Berawal dari bergurunya beliau kepada al-Jubbai seorang tokoh aliran Mu’tazilah, seiring berjalannya waktu aliran tersebut kemudian ditinggalkannya bahkan memberinya pukulan-pukulan hebat dan menganggapnya lawan yang berbahaya. Imam abul hasan ali bin ismail al-asy'ari pun tampil sebagai pembela aqidah Islam. Akhirnya muncullah Asy’ariyah yang mampu diterima oleh mayoritas kaum muslimin yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist.

Hariri Ulfa'i Rrosyidah (B91217119)
Read more

Tuesday, April 9, 2019

[Lettycia Nia Wiviana] Asy ‘Ariyyah


 Teologi Asy ‘Ariyyah

A.    Objek Kajian
Kajian formal     : Teologi Asy’ariyyah
Kajian material   : ilmu kalam

B.     Asy’ariyyah
Al Asy’ari adalah nama sebuah kabilah Arab terkemuka di Bashrah, Irak. Dari kabilah ini muncul beberapa orang tokoh terkemuka yang turut mempengaruhi dan mewarnai sejarah peradaban umat Islam. Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 206 H/873 M. Pada awalnya Al-Asy’ari ini berguru kepada tokoh Mu’tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.
Al-Asy’ari sebagai orang yang pernah menganut paham Mu’tazillah, tidak dapat menjauhkan diri dari pemakaian akal dan argumentasi pikiran. ia menentang dengan kerasnya mereka yang mengatakan bahwa akal pikiran dalam agama atau membahas soal- soal yang tidak pernah disinggung oleh Rasulullah merupakan suatu kesalahan. Dalam hal ini ia juga mengingkari orang yang berlebihan menghargai akal pikiran, karena tidak mengakui sifat-sifat Tuhan.
Pandangan Asy’ariyah tentang wahyu dan kedudukannya tercermin dalam pendapat Abu Hasan al-Asy’ari mengenai Alquran sebagai berikut: “Hendaknya kita membedakan antara kalamullah yang berdiri dengan dzat-Nya yang berarti qadim, dengan wujud Al Quran yang ada di antara kita dewasa ini, yang diturunkan kepada Muhammad dalam waktu tertentu. Perkataan-Nya adalah satu yaitu larangan, perintah, berita, dan istikhbar, serta janji dan ancaman. Kesemuanya termasuk dalam kategori perkataan-Nya, bukannya kembali pada jumlah atau susunan kalimatnya. Adapun lafadz yang diturunkan-Nya kepada nabi dan rasul-Nya melalui lafadz menunjukkan kalam yang azali. Sedangkan dalil yang dibuat adalah muhdits dan yang dilandasi adalah qadim dan azali. Jadi perbedaan antara bacaan dan yang dibaca sama saja dengan sebutan yang disebut, sebutan adalah muhdits sementara yang disebut adalah qadim”.
Sebagian kalangan berpendapat bahwa sumber pengambilan ilmu dalam Asy’ariyah adalah Alqur`an dan sunnah dengan berdasarkan kepada kaidah-kaidah ilmu kalam. Oleh karena dasar yang dipakai Asy’ariyah dalam memahami Alqur`an dan sunnah adalah kaidah-kaidah ahli kalam maka muncul beberapa penilaian terhadap konsekuensi penggunaan ilmu kalam tersebut. Ada pun penilaian konsekuensi tersebut antara lain sebagai berikut : pertama, Asy’ariyah mendahulukan akal daripada naql dalam kondisi keduanya bertentangan; kedua, Menolak hadits ahad dalam menetapkan perkara akidah karena, menurut Asy’ariyah, hadits ahad tidak menetapkan ilmu yang yakin. Bahkan sebagian dari kalangan Asy’ariyah dalam sumber bertalaqqi ada yang mengambil dari kasyaf dan perasaan, jika nash bertentangan dengan kasyaf maka kasyaf didahulukan atau nash dibelokkan agar sesuai dengan kasyaf. Ini adalah pendapat Asy’ariyah yang tercemar oleh metode sufi di mana mereka memiliki istilah ‘ilmu laduni’ dan slogan ‘hatiku menyampaikan kepadaku dari tuhanku’.
Namun demikian kedua konsekuensi akibat penggunaan ilmu kalam dalam penafsiran wahyu dan hadits tersebut agaknya masih memerlukan pengkajian lebih mendalam. Dalam masalah penggunaan akal dalam penafsiran wahyu misalnya, Abu al-Hasan sendiri menyarankan agar dalam penafsiran Alquran lebih merujuk kepada penjelasan Rasulullah dan penafsiran yang mutawatir di kalangan shahabat. Dengan demikian klaim bahwa Asy’ariyah lebih mendahulukan akal dibandingkan naql pada saat keduanya bertentangan tidak sepenuhnya benar jika ditinjau dari pernyataan Abu al-Hasan al-Asy’ari.
Jika diamati, berkembangnya paham Asy’ariyah di berbagai negeri disebabkan beberapa faktor, di antaranya:
1.         Anggapan bahwa paham Asy’ariyah adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal kita telah ketahui betapa banyak penyimpangan Asy’ariyah dalam masalah akidah, sehingga para ulama menyatakan Asy’ariyah bukanlah Ahlus Sunnah.
2.         Di sejumlah negara, paham ini didukung oleh para penguasa. Di kawasan Asia, aliran Asy’ariyah dijadikan aliran resmi Dinasti Gaznawi di India (abad 11-12 M) yang didirikan oleh Mahmud Gaznawi. Berkat jasa Mahmud Gaznawi itulah, aliran ini menyebar dari India, Pakistan, Afghanistan, hingga Indonesia. Aliran Asy’ariyah berkembang sangat pesat pada abad ke-11 M, tepatnya pada masa kekuasaan Aip Arsalan dan Dinasti Seljuk (abad 11-14 M). Menurut sejarah, sang khalifah dibantu oleh perdana menteri yang begitu setia mendukung aliran Asy’ariyah, yakni Nizam al- Mulk. Pada masa itu, penyebaran paham Asy’ariyah mengalami kemajuan yang sangat pesat melalui lembaga pendidikan bernama Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk.
3.         Paham Asy’ariyah juga tersebar seiring menyebarnya Shufiyah (sufi).
4.         Paham ini banyak dianut tokoh-tokoh di mazhab fikih. Sebagai contoh, al-Baqilani, adalah tokoh Asy’ariyah yang merupakan tokoh mazhab Maliki.
5.         Tersebarnya buku-buku Asy’ariyah, bahkan dijadikan kurikulum standar di lembaga pendidikan, pondok pesantren, dan lainnya.
6.         Kedustaan atas nama al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari.
7.         Adanya sebagian orang yang masih memasukkan Asy’ariyah dalam kelompok Ahlus Sunnah.
8.         Difigurkannya sebagian tokoh Asy’ariyah.
9.         Menyebarnya kelompok dakwah yang membawa fikrah Asy’ariyah, seperti Jamaah Tabligh dan thariqat-thariqat (tarekat-tarekat) shufiyah.
10.     Banyak lembaga pendidikan baik perguruan tinggi maupun lainnya memasukkan akidah Asy’ariyah dalam kurikulum mereka.

Premis 1 :
Al-asy’ari didirikan oleh Abu Hasan al-Asy’ari karena perbedaan pendapat dengan paham Mu’tazilah.
Premis 2:
Al-asy’ari berpendapat  kebaikan dari pendapat aliran Mu’tazilah karena kekecewaan Abu Asy’ari dengan al-Juba’i.
Premis 3 :
Al-lasy’ari berkembang pesat hingga meuju ke Indonesia dengan bukti adanya organisasi Nahdlatul ‘Ulama yang berfaham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Konklusi :
Pendiri Al-Asy’ari adalah Abu Hasan al-Asy’ari. Al-asy’ari sendiri didirikan karena pketidak sepahaman dengan Mu’tazilah. Penyebaran pemahaman al-Asy’ari melalui tokoh-tokoh terkemuka dengan argumentasi-argumentasi yan kuat sehingga masuk ke Indonesia.



Daftar Pustaka

Harun Nasution, (1986) Teologi Islam; Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI-Press
Soekama Karya,  (1996)  Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam, Logos, Jakarta
Muhammad Ahmad, (2009) Tauhid Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia
Abdul Rozak, (2007) Ilmu kalam, Bandung: Pustaka setia
Harun Nasution, (1975) Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan Islam, Jakarta: Bulan Bintang
Hanafi, (2003) Pengantar Teologi Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna
Read more

Irene Wulansari - ash ariyah

Nama :Irene Wulansari
NIM :B01217023
Asy Ariyah
Sejarah
Al Asy’ari adalah sebuah kabilah Arab terkemuka di Bashrah, Irak. Ketika berumur 40 tahun, dia bersembunyi dirumahnya selama 15hari untuk memikirkan ajaran-ajaran Mu’tazilah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.
Pada hari jum’at ia naik mimbar di masjid Basrah secararesmidan menyatakan pendiriannya keluar dari Mu’tazilah. Pernyataan tersebut ialah “Wahai masyarakat, barang siapa mengenal aku,  sungguh dia telah mengenalku barang siapa yang tidak mengenalku, maka aku mengenal diri sendiri. Aku adalah fulan bin fulan, dahulu aku berpendapat bahwa Al Qur’an  adalah makhluk, bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat dengan mata, maka perbuatan-perbuatan jelek aku sendiri yang membuatnya. Aku bertaubat,bertaubat dan mencabut paham-paham Mu’tazillah dan keluar daripadanya”.

Ketuhanan Asy Ariyah
Tuhan dan Sifatnya
Allah memiliki sifat seperti mempunyai tangan dan kaki, dan tidak boleh diartikan secara harfiyah, melainkan secara simbolis (berbeda dengan kelompok sifatiyah). Al Ash’ari berpendapat bahwa sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.

Kebebasan berkehendak (Free Will)
Ash Ariyah membedakan anatar khalq dan kasb (perbuatan manusia yang diciptakan Tuhan). Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia.
Perbuatan manusia yang diciptakan Tuhan memiliki kemampuan ikhtiar (memilih). Allah menciptakan perbuatan manusia bersama dengan pilihan (ikhtiar dan kemampuan) untuk berbuat suatu tindakan.

Akal dan Wahyu
Al-Ash’ari stuju dengan Mu’tazilah tentang perlunya penggunaan akal dalam hal keimanan. Tetapi, mereka berbeda dalam apakah ayat atau wahyu yang memiliki peran utama dalam memahami ajaran-ajaran agama. Mu’tazilah berpendapat bahwa akallah yang lebih utama kedudukannya. Oleh karena itu manakala terjadi pertentangan antara rasio dan wahyu, maka rasiolah yang harus didahulukan dan wahyu ditakwilkan agar dapat diterima oleh rasio. Sebaliknya, al-Ash ‘ari berpendapat bahwa lebih bisa dipercaya, karena kebenaran rasional sifatnya hanyalah mengonfirmasi kebenaran yang disampaikan oleh wahyu.
Al-Ash ‘ari berpendapat bahwa untuk menentukan baik dan buruk adalah berdasarkan wahyu. Perbuatan manusia pada dasarnya adalah netral dan wahyulah yang menentukan apakah perbuatan mausia itu baik atau buruk.

Persoalan Tentang Al Qur’an
Al-Ash’ari berpendapat bahwa Kalam Allah dalam arti al-Kalam al-haqiqi jika al-Kalam al-haqiqi ini diekspresikan melalui huruf atau suara maka Kalam tersebut adalah baru. Inilah alasannyabeliau mengatakan bahwa Al Qur’an bukan makhluk dan bukan selain makhluk.

Melihat Allah
Al-Ash’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi dengan tanpa bisa digambarkan. Kemungkinan ru’yah (melihat) dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Allah menciptakan kemampuan manusia untuk melihat Allah.

Keadilan
Allah tidak memiliki keharusan apapun karena Dia adalah penguasa mutlak.

Kedudukan Orang Mukmin yang Berbuat Dosa
Mukmin yang berbuat dosa besar adalah mu’min yang fasiq, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufr.

Premis
1. Sikap politik Ash Ari’ah adalah netral
2. Paham ketuhanan Ash Ari’ah bahwa Allah memang memiliki sifat seperti mempunyai tangan dan kaki, dan tidak boleh diartikan secara harfiah, melainkan secara simbolis (berbeda dengan kelompok sifatiyah). Al-Ash’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan  sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip
3. Paham Asy-Ari’ah tentang antropologi atau manusia bahwa perbuatan manusia yang diciptakan Tuhan memiliki kemampuan ikhtiar (memilih). Allah menciptakan perbuatan manusia bersama dengan pilihan (ikhtiar dan kemampuan) untuk berbuat suatu tindakan.

Konklusi
Asy Ari’ah bersifat politik netral  yang meyakini bahwa Tuhan memiliki sifat seperti tanagn dan kaki diartikan secara simbolis dan tidak dapat dibandingkan dengan sifat manusia yang tampak. Sedangkan manusia memiliki kemampuan ikhtiar untuk berbuat suatu tindakan.
Read more

Milawati-Pemikiran Asy-Ariyah

ASYARIYAH
Asy`ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy`ariy. Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asyari, seorang sahabat Rasulullah saw. Kelompok Asyariyah menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asyariyah.
Abul Hasan Al-Asyaari dilahirkan pada tahun 260 H/874 M di Bashrah dan meninggal dunia di Baghdad pada tahun 324 H/936 M. Ia berguru kepada Abu Ishaq Al-Marwazi, seorang fakih madzhab Syafii di Masjid Al-Manshur, Baghdad. Ia belajar ilmu kalam dari Al-Jubbai, seorang ketua Muktazilah di Bashrah.
Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Abu Ali Al-Jubbai, salah seorang pembesar Muktazilah. Hal itu menjadikan otaknya terasah dengan permasalahan kalam sehingga ia menguasai betul berbagai metodenya dan kelak hal itu menjadi senjata baginya untuk membantah kelompok Muktazilah.
Al-Asyari yang semula berpaham Muktazilah akhirnya berpindah menjadi Ahli Sunnah. Sebab yang ditunjukkan oleh sebagian sumber lama bahwa Abul Hasan telah mengalami kemelut jiwa dan akal yang berakhir dengan keputusan untuk keluar dari Muktazilah. Sumber lain menyebutkan bahwa sebabnya ialah perdebatan antara dirinya dengan Al-Jubbai seputar masalah ash-shalah dan ashlah (kemaslahatan).
Al-Asyari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen Barat ketika menyerang akidah Islam. Karena itulah metode akidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.
Munculnya kelompok Asyariyah ini tidak lepas dari ketidakpuasan sekaligus kritik terhadap paham Muktazilah yang berkembang pada saat itu. Kesalahan dasar Muktazilah di mata Al-Asy'ari adalah bahwa mereka begitu mempertahankan hubungan Tuhanmanusia, bahwa kekuasaan dan kehendak Tuhan dikompromikan.
Al Asyari adalah nama sebuah kabilah Arab terkemuka di Bashrah, Irak. Dari kabilah ini muncul beberapa orang tokoh terkemuka yang turut mempengaruhi dan mewarnai sejarah peradaban umat Islam. Nama Al-Asyariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asyari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 206 H/873 M.2 Pada awalnya Al-Asyari ini berguru kepada tokoh Mutazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mutazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.
Ketika berumur 40 tahun, dia bersembunyi dirumahnya selama 15 hari untuk memikirkan hal tersebut. Pada hari Jumat dia naik mimbar di masjid Bashrah secara resmi dan menyatakan pendiriannya keluar dari Mutazilah. Pernyataan tersebut adalah: wahai masyarakat, barang siapa mengenal aku, sungguh dia telah mengenalku, barang siapa yang tidak mengenalku, maka aku mengenal diri sendiri. Aku adalah fulan bin fulan, dahulu aku berpendapat bahwa Alquran NZMperbuatan jelek aku sendiri yang yang membuatnya. Aku bertaubat, bertaubat dan mencabut paham-paham Mutazillah dan keluar daripadanya".
Tokoh aliran Asy Ariyah
a. Abu Hasan Al-Asyari
b. Abu Bakar Al-Baqillani (403 H = 1013 M)
c. Imam Al-Haramain (478 H = 1058 M)
d. Al-Ghazali (505 H = 1111 M)
e. Al-Syahrastani (548 H = 1153 M)
f. Fakhr Al-Din Al-Razi (606 H=1209 M)

Al-Asyari menulis tidak kurang dari 90 kitab dalam berbagai lapangan yang bisa dibaca oleh orang banyak. dia menolak pendapat Aristoteles, golongan Jahamiyah dan golongan Murjiah. Akan tetapi fokus kegiatan Al-Asyari adalah ditujukan pada orang- orang Mutazilah seperti Ali Al-Jubai, Abul Hudzail dan lain-lain.
Ciri-ciri orang yang menganut aliran Asyariyah adalah sebagai berikut:
1. Mereka berpikir sesuai dengan Undang-Undang alam dan mereka juga mempelajari ajaran itu.
2. Iman adalah membenarkan dengan hati, amal perbuatan adalah kewajiban untuk berbaut baik dan terbaik bagi manusia dan mereka tidak mengkafirkan orang yang berdosa besar.
3. Kehadiran Tuhan dalam konsep Asyariyah terletak pada kehendak mutlak-Nya.
Pandangan Asyariyah tentang wahyu dan kedudukannya tercermin dalam pendapat Abu Hasan al-Asyari mengenai Alquran sebagai berikut:7 Hendaknya kita membedakan antara kalamullah yang berdiri dengan dzat-Nya yang berarti qadim, dengan wujud Al Quran yang ada di antara kita dewasa ini, yang diturunkan kepada Muhammad dalam waktu tertentu. Perkataan-Nya adalah satu yaitu larangan, perintah, berita, dan istikhbar, serta janji dan ancaman. Kesemuanya termasuk dalam kategori perkataan-Nya, bukannya kembali pada jumlah atau susunan kalimatnya. Adapun lafadz yang diturunkan-Nya kepada nabi dan rasul-Nya melalui lafadz menunjukkan kalam yang azali. Sedangkan dalil yang dibuat adalah muhdits dan yang dilandasi adalah qadim dan azali. Jadi perbedaan antara bacaan dan yang dibaca sama saja dengan sebutan yang disebut, sebutan adalah muhdits sementara yang disebut adalah qadim.
Sebagian kalangan berpendapat bahwa sumber pengambilan ilmu dalam Asyariyah adalah Alqur`an dan sunnah dengan berdasarkan kepada kaidah-kaidah ilmu kalam. Oleh karena dasar yang dipakai Asyariyah dalam memahami Alqur`an dan sunnah adalah kaidah-kaidah ahli kalam maka muncul beberapa penilaian terhadap konsekuensi penggunaan ilmu kalam tersebut. Ada pun penilaian konsekuensi tersebut antara lain sebagai berikut : pertama, Asyariyah mendahulukan akal daripada naql dalam kondisi keduanya bertentangan; kedua, Menolak hadits ahad dalam menetapkan perkara akidah karena, menurut Asyariyah, hadits ahad tidak menetapkan ilmu yang yakin. Bahkan sebagian dari kalangan Asyariyah dalam sumber bertalaqqi ada yang mengambil dari kasyaf dan perasaan, jika nash bertentangan dengan kasyaf maka kasyaf didahulukan atau nash dibelokkan agar sesuai dengan kasyaf. Ini adalah pendapat Asyariyah yang tercemar oleh metode sufi di mana mereka memiliki istilah ilmu laduni dan slogan hatiku menyampaikan kepadaku dari tuhanku.
Teologi Asyariyah muncul karena tidak terlepas dari, atau malah dipicu oleh situasi sosial politik yang berkembang pada saat itu. Teologi Asyari> muncul sebagai teologi tandingan dari aliran Mutazilah yang bercorak rasionil. Aliran Mutazilah ini mendapat tantangan keras dari golongan tradisionil Islam terutama golongan Hanba>li. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut: Pada tahun 827 M. Khalifah Abbasiyah, al-Makmun, menerima doktrin Mutazilah secara resmi, dan dilanjutkan pada pemerintahan dua khalifah setelahnya. Orang-orang yang teguh memegang tradisi, khususnya Ahmad bin Hanbal disiksa bahkan lebih dari itu, orang-orang yang tidak memahami defenisi dogmatis Mutazilah yang cerdas atau menolak menerima mereka, dan kadang-kadang sebagian besar dianggap kafir.
Al-Asyarî adalah murid dan belajar ilmu kalam dari seorang tokoh Mutazilah, yaitu Abu> A>li al-Jubba>i, malah Ibn A>saki>r mengatakan bahwa al-Asyari belajar dan terus bersama gurunya itu, selama 40 tahun, sehingga al-Asyari> pun termasuk tokoh Mutazilah. Dan karena kepintaran serta kemahirannya, ia sering mewakili gurunya itu dalam berdiskusi. Namun pada perkembangan selanjutnya, al- Asyari> menjauhkan diri dari pemikiran Mutazilah dan selanjutnya condong kepada pemikiran para fuqaha> dan ahli hadis.
Asyariyah berkembang pesat mulai abad ke-11 M. Bersama menyebarnya Tasawuf (sufi), pemahaman ini juga mendapat dukungan oleh para penguasa di beberapa pemerintahan Islam. Asyariyah dijadikan mazhab resmi oleh Dinasti Gaznawi di India pada abad 11-12 M yang menyebabkan pemahaman ini dapat menyebar dari India, Pakistan, Afghanistan, hingga ke Indonesia.
Dinasti Seljuk pada abad 11-14 M. Khalifah Aip Arsalan beserta Perdana menterinya, Nizam al-Mulk sangat mendukung aliran Asyariyah. Sehingga pada masa itu, penyebaran paham Asyariyah mengalami kemajuan yang sangat pesat utamanya melalui lembaga pendidikan bernama Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk.

Daftar Pustaka
Asy-Syahrastani, Muhammad bin 'Abdul Karim (2001). "Al-Milal wa al-Nihal: Aliran-aliran Teologi dalam Sejarah Umat Islam". Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Hadi Rafitra Hasibuan, MA.  ALIRAN ASY'ARIYAH (Kajian Historis dan Pengaruh Aliran Kalam Asyariyah)
http://kalamstai.blogspot.com/2009/03/aliran-asyariyah.html
Supriadin, AL-ASYARIYAH (Sejarah, Abu al-Hasan al-Asyari dan Doktrin-doktrin Teologinya, Sulesana( Volume 9 Nomor 2 Tahun 2014
Read more

( Indri Wachidah ) Doktrin Asy'ariyah


Nama: Indri Wachidah W. T.
Kelas/NIM: A2/B91217122                             
Doktrin Asy’ariyah
Kajian Material: Ilmu Kalam
Kajian Formal: Doktrin Asy’ariyah

A.    Sejarah Lahirnya Asy’ariyah
Aliran Asy'ariyah adalah aliran teologi Islam yang lahir pada dasawarsa kedua abad ke-10 (awal abad ke-4). Pengikut aliran ini, bersama pengikut Maturudiyah dan Salafiyah, mangaku termasuk golongan ahlussunnah wal jama’ah.Pendiri teologi Asy'ariyah ini adalah Imam Asy'ari (Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy'ari. Abu Hasan al-Asy'ari, nama lengkapnya adalah Abul Hasan bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Abdillah bin Musa bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy'ari. Ia adalah seorang ulama yang dikenal sebagai salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali dan Muawiyah. Abul Hasan al-Asy'ari lahir di Basrah pada 260 H/873 M dan meninggal di Bagdad pada 324 H/935 M.
Al-Asy'ari semula dikenal sebagai tokoh Mu’tazilah, dia adalah murid dari al-Juba’i, seorang yang cerdas yang dapat dibanggakan serta pandai berdebat, sehingga al-Juba’i sering menyuruh al-Asy'ari untuk menggantikannya bila terjadi suatu perdebatan. Dia menjadi pengikut aliran Mu’tazilah sampai berumur 40 tahun. Pada 300 H, yaitu ketika beliau mencapai umur 40 tahun, dia menyatakan keluar dari Mu’tazilah dan membentuk aliran teologi sendiri yang kemudian dikenal dengan nama Asy'ariyah.[1]
Adapun sebab terpenting Al-Asy'ari meninggalkan Mu'tazilah ialah karena adanya perpecahan yang dialami kaum muslimin yang bisa menghancurkan mereka sendiri, kalau seandainya tidak segera diakhiri. Sebagai seorang muslim yang sangat mendambakan atas kepersatuan umat, dia sangat khawatir kalau Al-Qur'an dan Al-Hadits menjadi kurban dari faham-faham Mu'tazilah yang dianggapnya semakin jauh dari kebenaran, menyesatkan dan meresahkan masyarakat. Hal ini disebabkan karena mereka terlalu menonjolkan akal fikiran. Kebanyakan muslim tidak lagi menganggap Mu'tazilah sebagai aliran yang patut dianut. Aliran mu'tazilah yang minoritas dan telah ditinggalkan oleh penganutnya tidak mungkin lagi dipertahankan oleh Al Asya'ari dan inilah yg memotivasi dirinya untuk membentuk teologi islam baru setelah puluhan tahun menganut paham Mu'tazilah.[2]

B. Doktrin Asyariyah
a.. Al-asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat seperti mempunyai tangan dan kaki dan ini tidak boleh diartikan secara hartiah, sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip. Paham kaum golongan Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah itu mempunyai sifat di antaranya, al-‘ilm, alqudrat,al-sama’ al-bas}ar, al-hayah, iradah, dan lainnya. Namun semua ini dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya).[3]
b. Kebebasan dalam berkehendak (free will)
Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya (muktasib), hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keinginan manusia). Asy‟ariyah berakidah Jabariyah dalam permasalahan takdir, mereka tidak menetapkan al-irÉdah al-syar’iyyah, menurut mereka takdir datangnya dari Allah dan usaha (al-kasbu) dari manusia, dan al-kasbu ini tidak ada pengaruhnya sama sekali.[4]
c. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk
Al-asy’ari mengutamakan wahyu, sementara mutazilah mengutamakan akal. Al-asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu, sedangkan Mu’tazillah mendasarkannya pada akal.[5]
d. Qadimnya Al-Qur’an
Al-asy’ari mengatakan bahwa walaupun Al-Qur’an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim. Nasution mengatakan bahwa Al-Qur’an bagi Al-asy’ari tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan, sesuai dengan ayat: Artinya:“ Jika kami menghendaki sesuatu, kami bersabda, “ terjadilah“ maka ia pun terjadi”.
e. Melihat Allah
Al-asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat atau bilamana ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihatnya.
f. Keadilan
Pada dasarnya Al-asy’ari dan mutazilah setuju bahwa Allah itu adil. Al-asy’ari tidak sependapat dengan mutazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlaq.
g. Kedudukan orang berdosa
Menurut Al-asy’ari mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.[6]
Berdasarkan pokok-pokok ajaran Asy’ariyah, maka ciri-ciri orang yang menganut aliran Asy’ariyah adalah sebagai berikut:
a. Mereka berpikir sesuai dengan Undang-undang alam dan mereka juga
mempelajari ajaran itu.
b. Iman adalah membenarkan dengan hati, amal perbuatan adalah kewajiban untuk
berbaut baik dan terbaik bagi manusia. dan mereka tidak mengkafirkan orang
yang berdosa besar.
c. Kehadiran Tuhan dalam konsep Asy’ariyah terletak pada kehendak mutlak-Nya.[7]
Pengikut Asy’ari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam yang beraliran Ahlussunnah wal jamaah ialah Imam al-Ghazali. Tampaknya paham teologi cenderung kembali pada paham-paham Asy’ari. Al-Ghazali meyakini bahwa:
a) Tuhan mempunyai sifat-sifat qadīm yang tidak identik dengan zat Tuhan dan mempunyai wujud di luar zat.
b) Al-Quran bersifat qadīm dan tidak diciptakan.
c) Mengenai perbuatan manusia, Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan.
d) Tuhan dapat dilihat karena tiap-tiap yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat.
e) Tuhan tidak berkewajiban menjaga kemaslahatan (aṣ-ṣalah wal aṣlah) manusia, tidak wajib memberi ganjaran pada manusia, dan bahkan Tuhan boleh memberi beban yang tak dapat dipikul kepada manusia.[8]

Premis :
1.      Aliran Asy’ariyah didirikan oleh Imam Asy’ari yang dulunya berpaham mu’tazilah, namun kemudian keluar dari mu’tazilah karena menganggap mu’tazilah menyimpang.
2.      Doktrin Asyariyah yaitu :
a.       Tuhan memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan makhluk
b.      Allah memiliki kebebasan untuk berkehendak
c.       Al-Asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk berdasarkan wahyu
d.      Al-Qur’an tidak qadim
e.       Al-Asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digaambarkan.
f.       Al- Asy’ari berpendapat bahwa Allah adil
g.      Al-Asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufr.
Konklusi:
Aliran Asy’ariyah adalah sebuah aliran yang didirikan oleh Imam Asy’ari sebagai bentuk kekecewaannya terhadap aliran mu’tazilah yang ia anggap sesat. Sebelumnya ia adalah salah satu tokoh mu’tazilah, namun kemudian ia keluar dari aliran itu dan menidirikan alirah asy’ariyah.  Dalam perkembangannya, aliran ini memiliki tujuh doktrin yang dijadikan sebagai dasarpemikiran.



[1] http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/11/jtptiain-gdl-s1-2005-uudnurkhad-533-BAB3_419-4.pdf
[2] Lailatulfitriah, Sejarah dan Doktrin-doktrin dalam Teologi Asy'ariyah dan Maturidiyah, 2018, diakses dari https://www.kompasiana.com/lailatulfitriahaks/5bbb316512ae941a5a246842/sejarah-dan-doktrin-doktrin-dalam-teologi-asy-ariyah-dan-maturidiyah?page=all
[4] IKMAL FAHAD, PEMIKIRAN ABU AL-HASAN AL-ASY’ARI  TENTANG ASMA’ DAN SIFAT ALLAH, tesis, 2013
[7] Supriadin, AL-ASY’ARIYAH (Sejarah, Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Doktrin-doktrin Teologinya,) diakses dari ejuournal-alauddinmakassar.com
[8]  https://www.bacaanmadani.com/2018/03/pengertian-aliran-asyariyah-tokoh-dan.html
Read more