Showing posts with label Islam nusantara. Show all posts
Showing posts with label Islam nusantara. Show all posts

Tuesday, July 2, 2019

[ilyunal] Islam Nusantara

Ilyunal Iqbal Kahfi
B91217071
 
Objek Formal: Ilmu Kalam
Objek Material: Bahasan Islam Nusantara
Read more

Friday, June 28, 2019

[Fathiyah Khasanah ] ISLAM NUSANTARA


ISLAM NUSANTARA
A.   KAJIAN FORMAL
Ilmu Kalam
B.    KAJIAN MATERIAL
Pengertian Islam Nusantara
Banyak kalangan yang menolak labelisasi Nusantara pada Islam. Karena bagi mereka Islam berlaku universal, yang berarti rahmat bagi seluruh alam tidak deisempitkan dalam arti nusantara saja. Lebih jauh, menambahkan kata Nusantara telah menghilangkan identitas rahmatan lil ‘alamin dari Islam sebagai agama yang sempurna. Pengertian islam nusantara sendiri dapat diambil dari kata Islam berarti “penyerahan, kepatuhan, ke-tundukan, dan perdamaian”. Nabi Muhammad Saw mengungkapkan bahwa agama ini memiliki lima ajaran pokok, yaitu “Islam adalah bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, men dirikan shalat, menunaikan zakat, melaksana kan puasa dan menunaikan haji—bagi yang mampu”. Selain itu Islam memiliki dua pedoman yang selalu dirujuk, Alquran dan Hadits. Keduanya memuat ajaran yang membimbing umat manusia beserta alam raya ke arah yang lebih baik dan teratur.[1]
Sedangkan Nusantara adalah istilah yang menggambarkan wilayah kepulauan dari Sumatera hingga Papua. Kata ini berasal dari manuskrip berbahasa Jawa sekitar abad ke-12 sampai ke16 sebagai konsep Negara Majapahit. Sementara dalam literatur berbahasa Inggris abad ke-19, Nusantara merujuk pada kepulauan Melayu. Ki Hajar Dewantoro, memakai istilah ini pada abad 20-an sebagai salah satu rekomendasi untuk nama suatu wilayah Hindia Belanda. Karena kepulauan tersebut mayoritas berada di wilayah negara Indonesia, maka Nusantara biasanya disinonimkan dengan Indonesia. Istilah ini, di Indonesia secara konstitusional juga dikukuhkan dengan Keputusan Presiden (Kepres) MPR No.IV/MPR/1973, tentang Garis Besar Haluan Negara Bab II Sub E. Kata Nusantara ditambah dengan kata wawasan.[2]
Melalui pengertian Islam dan Nusantara di atas, maka Islam Nusantara merupakan ajaran agama yang terdapat dalam Alquran dan Hadits yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad yang diikuti oleh penduduk asli Nusantara (Indonesia), atau orang yang berdomisili di dalamnya. Sementara itu, menurut guru besar filologi Islam UIN Jakarta Oman Fathurrahman, Islam Nusantara yang di maksud bukan Islam yang normatif tapi Islam empirik yang terindegenisasi. “Oleh kerena itu kita mencoba merumuskan sebuah kalimat, Islam Nusantara itu adalah Islam Nusantara yang empirik dan distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, pener  jemahan, vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan sastra di Indonesia.”[3]
Sedangkan menurut Akhmad Sahal, dalam memahami Islam Nusantara, harus meyakini ada dimensi keagamaan dan budaya yang saling berjalin-kelindan satu sama lain. Dimensi ini adalah suatu cara Islam ber kompromi dengan batas wilayah teritorial yang memiliki akar budaya tertentu. Hal ini meng akibatkan Islam sepenuh-penuhnya tidak lagi menampilkan diri secara kaku dan tertutup, namun menghargai keberlainan. Islam dengan begitu sangat mengakomodir nilai-nilai yang sudah terkandung dalam suatu wilayah tertentu.[4]
Dalam buku Islam Nusantara Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia, karya Ahmad Baso dapat dijadikan rujukan untuk memahami Islam Nusantara secara gamblang. Pada buku tersebut, Ahmad Baso menulis bahwa Islam Nusantara diibaratkan sebagai pertemuan dua bibit pohon unggulan yang berbeda jenis, namun ketika disatukan dalam proses persilangan akan menghasilkan sebuah bibit baru yang lebih unggul. Persilangan Islam dan Nusantara diperlukan untuk memeroleh genius baru dengan karakter atau sifat-sifat unggulan yang diinginkan. Bibit ini akan tumbuh sehat dan mampu bertahan dalam situasi dan cengkeraman lingkungan manapun, toleran dan adaptif terhadap lingkungannya sehingga bisa tumbuh dan besar dengan sehat, tidak cepat aus, rusak atau gagal tumbuh. Dengan persilangan dua spesies berbeda itu maka diharapkan muncul spesies baru yang populis, kualitas peradaban yang tinggi serta tahan banting terhadap berbagai kondisi dan tantangan. Dan spesies baru itulah yang disebut Islam Nusantara.[5]
C.    PREMIS
1.     Islam adalah ajaran agama yang terdapat dalam Alquran dan Hadits.
2.     Nusantara adalah istilah yang menggambarkan wilayah kepulauan dari Sumatera hingga Papua.
D.   KONKLUSI
Islam Nusantara merupakan ajaran agama yang terdapat dalam Alquran dan Hadits yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad yang diikuti oleh penduduk asli Nusantara (Indonesia).

Fathiyah Khasanah Ar Rahmah (B01217016)



[1] Khabibi Muhammad Lutfi; Islam Nusantara; Relasi Islam dan Budaya Lokal, Jurnal Shahih Vol 1, Juni 2016. h. 34
[2] ibid
[3] Pernyataan ini disampaikan pada forum bertema “Islam Nusantara sebagai Islam Mutamaddin Menjadi Tipe Ideal Dunia Islam” Pra Muktamar NU ke-33 di Makassar Sulawesi Selatan, tahun 2015
[4] Akhmad Sahal (eds.), Islam Nusantara Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan, Cet. I (Bandung: Mizan Pustaka, 2015), h. 33.
[5] Ahmad Baso, Islam Nusantara Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia, Jilid I,Cet. I (Jakarta: Pustaka Afid, 2015), h. 17-18.

Read more

Thursday, June 27, 2019

(sultan) Islam Nusantara


Nama   : M sultan hakim
Nim     : B01217028
Kelas   : A2

Islam Nusantara


A      Objek Kajian

a.       Formal:            Ilmu Kalam
b.      Material:          Ilmu Kalam Ideologi Ajaran Islam Nusantara

B       Penyajian Data

Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia. Istilah ini secara perdana resmi diperkenalkan dan digalakkan oleh organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 2015, sebagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global yang selama ini selalu didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.
Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya. Pada Juni 2015, Presiden Joko Widodo telah secara terbuka memberikan dukungan kepada Islam Nusantara, yang merupakan bentuk Islam yang moderat dan dianggap cocok dengan nilai budaya Indonesia.
Praktik Islam awal di Nusantara sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran Sufisme dan aliran spiritual Jawa yang telah ada sebelumnya. Beberapa tradisi, seperti menghormati otoritas kyai, menghormati tokoh-tokoh Islam seperti Wali Songo, juga ikut ambil bagian dalam tradisi Islam seperti ziarah kuburtahlilan, dan memperingati maulid nabi, termasuk perayaan sekaten, secara taat dijalankan oleh Muslim tradisional Indonesia. Akan tetapi, setelah datangnya Islam aliran Salafi modernis yang disusul datangnya ajaran Wahhabi dari Arab, golongan Islam puritan skripturalis ini menolak semua bentuk tradisi itu dan mencelanya sebagai perbuatan syirik atau bidah, direndahkan sebagai bentuk sinkretisme yang merusak kesucian Islam. Kondisi ini telah menimbulkan ketegangan beragama, kebersamaan yang kurang mengenakkan, dan persaingan spiritual antara Nahdlatul Ulama yang tradisional dan Muhammadiyah yang modernis dan puritan.
Sementara warga Indonesia secara seksama memperhatikan kehancuran Timur Tengah yang tercabik-cabik konflik dan perang berkepanjangan; mulai dari Konflik Israel–PalestinaKebangkitan dunia Arab, perang di Irak dan Suriah, disadari bahwa ada aspek keagamaan dalam konflik ini, yaitu munculnya masalah Islam radikal. Indonesia juga menderita akibat serangan teroris yang dilancarkan oleh kelompok jihadi seperti Jamaah Islamiyah yang menyerang Bali. Doktrin ultra konservatif Salafi dan Wahhabi yang disponsori pemerintah Arab Saudi selama ini telah mendominasi diskursus global mengenai Islam. Kekhawatiran semakin diperparah dengan munculnya ISIS pada 2013 yang melakukan tindakan kejahatan perang nan keji atas nama Islam. Di dalam negeri, beberapa organisasi berhaluan Islamis seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), juga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah secara aktif bergerak dalam dunia politik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal ini menggerogoti pengaruh institusi Islam tradisional khususnya Nahdlatul Ulama. Elemen Islamis dalam politik Indonesia ini kerap dicurigai dapat melemahkan Pancasila.
Akibatnya, muncullah desakan dari golongan cendekiawan Muslim moderat yang hendak mengambil jarak dan membedakan diri mereka dari apa yang disebut Islam Arab, dengan mendefinisikan Islam Indonesia. Dibandingkan dengan Muslim Timur Tengah, Muslim di Indonesia menikmati perdamaian dan keselarasan selama beberapa dekade. Dipercaya hal ini berkat pemahaman Islam di Indonesia yang bersifat moderat, inklusif, dan toleran. Ditambah lagi telah muncul dukungan dari dunia internasional yang mendorong Indonesia — sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, agar berkontribusi dalam evolusi dan perkembangan dunia Islam, dengan menawarkan aliran Islam Nusantara sebagai alternatif terhadap Wahhabisme Saudi. Maka selanjutnya, Islam Nusantara diidentifikasi, dirumuskan, dipromosikan, dan digalakkan.
Ciri utama dari Islam Nusantara adalah tawasut (moderat), rahmah (pengasih), anti-radikal, inklusif dan toleran. Dalam hubungannya dengan budaya lokal, Islam Nusantara menggunakan pendekatan budaya yang simpatik dalam menjalankan syiar Islam; ia tidak menghancurkan, merusak, atau membasmi budaya asli, tetapi sebaliknya, merangkul, menghormati, memelihara, serta melestarikan budaya lokal. Salah satu ciri utama dari Islam Nusantara adalah mempertimbangkan unsur budaya Indonesia dalam merumuskan fikih.
Islam Nusantara dikembangkan secara lokal melalui institusi pendidikan tradisional pesantren. Pendidikan ini dibangun berdasarkan sopan santun dan tata krama ketimuran; yakni menekankan penghormatan kepada kiai dan ulama sebagai guru agama. Para santri memerlukan bimbingan dari guru agama mereka agar tidak tersesat sehingga mengembangkan paham yang salah atau radikal. Salah satu aspek khas adalah penekanan pada prinsip Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi semesta alam) sebagai nilai universal Islam, yang memajukan perdamaian, toleransi, saling hormat-menghormati, serta pandangan yang berbineka dalam hubungannya dengan sesama umat Islam, ataupun hubungan antaragama dengan pemeluk agama lain.
Islam Nusantara (IN) terdiri dari dua kata, Islam dan Nusantara. Islam berarti “penyerahan, kepatuhan, ketundukan, dan perdamaian”.  Agama ini memiliki lima ajaran pokok sebagaimana diungkapkan Nabi Muhammad, yaitu “Islam adalah bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa dan menunaikan haji—bagi yang mampu.”.  Selain itu Islam memiliki dua pedoman yang selalu dirujuk, Alquran dan Hadist. Keduanya memuat ajaran yang membimbing umat manusia beserta alam raya ke arah yang lebih baik dan teratur. Nusantara adalah istilah yang menggambarkan wilayah kepulauan dari Sumatera hingga Papua. Kata ini berasal dari manuskrip berbahasa Jawa sekitar abad ke-12 sampai ke-16 sebagai konsep Negara Majapahit.
Berdasarkan pengertian di atas, (IN) adalah ajaran agama yang terdapat dalam Alquran dan Hadith yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad yang diikuti oleh penduduk asli Nusantara (Indonesia), atau orang yang bertempat tinggal di dalamnya. Namun jika dikaitkan dengan pandangan setiap muslim atau organisasi Islam tertentu, konsep IN akan menjadi kompleks. Sebagaimana terjadi dalam organisasi Islam terbesar di dunia, NU. Meskipun secara resmi istilah ini diluncurkan sebagai tema muktamar ke-33 di Jombang, yakni “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan dunia”, tetapi para tokoh di dalamnya memiliki konsep yang berbeda-beda.

C      Premis

1.    Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya.
2.    Ciri utama dari Islam Nusantara adalah tawasut (moderat), rahmah (pengasih), anti-radikal, inklusif dan toleran.
3.    Islam Nusantara dikembangkan secara lokal melalui institusi pendidikan tradisional pesantren. Pendidikan ini dibangun berdasarkan sopan santun dan tata krama ketimuran; yakni menekankan penghormatan kepada kiai dan ulama sebagai guru agama.

D      Konklusi

Islam Nusantara atau islam Indonesia yakni Islam yang dikembangkan di Nusantara yang didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya. Ajaran yang disebarkan yaitu ajaran Islam yang tawasut (moderat), rahmah (pengasih), anti-radikal, inklusif dan toleran, Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi semesta alam). Pesantren adalah tempat Pendidikan ini dibangun berdasarkan sopan santun dan tata krama ketimuran; yakni menekankan penghormatan kepada kiai dan ulama sebagai guru agama.


Read more

Tuesday, June 18, 2019

( Indri Wachidah ) Metodologi Islam Nusantara

Islam Nusantara
    Islam Nusantara (IN) terdiri dari dua kata, Islam dan Nusantara. Islam berarti “penyerahan, kepatuhan, ketundukan, dan perdamaian”. Nusantara adalah istilah yang menggambarkan wilayah kepulauan dari Sumatera hingga Papua. Maka, Islam Nusantara dapat berarti  ajaran agama yang terdapat dalam Alquran dan Hadits yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad yang diikuti oleh penduduk asli Nusantara (Indonesia), atau orang yang berdomisili di dalamnya.
   Kehadiran wacana Islam Nusantara (IN) tidak terlepas dari pertarungan tiga kelompok. Yakni kelompok pertama, yaitu kelompok yang ingin agar Islam sesuai dengan budaya yang dibawa oleh Nabi dan tidak mengakui budaya lain. Kelompok kedua yaitu agar Islam mempengaruhi semua budaya yang ada. Dan kelompom ketiga yaitu yang menengahi keduanya yakni, ada Islam yang bersifat substantif dan ada pula yang lateral. 
     IN (Islam Nusantara) ingin memosisikan diri pada kelompok ketiga. Ia muncul akibat “kegagalan” kelompok pertama yang menghadirkan wajah Islam tidak ramah dan cenderung memaksakan kepada budaya lain, bahkan menggunakan kekerasan dalam mendakwahkan Islam. Begitu juga kelompok kedua yang dianggap mendistorsi ajaran Islam.

Metodologi Islam Nusantara
      Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Upaya itu dalam ushul fikih disebut dengan ijtihad tathbiqi, yaitu ijtihad untuk menerapkan hukum.

1. Maslahah Mursalah
         Dalil mashlahah mursalah ini juga telah dipakai para ulama untuk menerima Pancasila sebagai asas dalam bernegara. Nahdhatul Ulama telah menetapkan bahwa kedudukan Pancasila sebagai dasar bernegara merupakan keputusan final. Ini karena para kiai NU menyadari bahwa tak ada dalil yang menyuruh sekaligus yang melarang Pancasila dijadikan sebagai dasar negara.
      Tentang Pancasila, para kiai berkata: Pertama, tak ada satu sila pun dalam Pancasila yang bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits. Bahkan, sila-silanya selaras dengan pokok-pokok ajaran Islam. Kedua, dari sudut realitas politik, Pancasila ini bisa menjadi payung politik yang menyatukan seluruh warga negara yang plural dari sudut etnis, suku, dan agama.

2. Istihsan
      Ulama Hanafiyah membagi istihsan ini kedalam enam bagian. Salah satunya adalah istihsan bi al-‘urf, yaitu istihsan yang didasarkan pada tradisi masyarakat. Misalnya, disebut dalam syari’at bahwa menutup aurat bagi perempuan muslimah adalah wajib. Namun, di kalangan para ulama terjadi perselisihan mengenai batas aurat. Ada ulama yang longgar, tapi ada juga ulama yang ketat dengan menyatakan bahwa seluruh tubuh perempuan bahkan suaranya adalah bagian dari aurat yang harus disembunyikan. 
      Keragaman pandangan ulama mengenai batas aurat tersebut tak ayal lagi berdampak pada keragaman ekspresi perempuan muslimah dalam berpakaian. Ada pakaian perempuan muslimah di Nusantara yang membiarkan kaki bahkan separuh betisnya kelihatan. Contohnya pakaian istri tokoh-tokoh Islam Indonesia zaman dulu. Mereka memakai kain-sampir, baju kebaya, dan kerudung penutup kepala, dan membiarkan tapak kaki dan bagian paling bawah betisnya tersingkap ke publik. Itulah istihsan bi al-`urf.

3. 'Urf
          Sebuah kaidah menyatakan, al-tsabitu bil `urfi kats tsabiti bin nash (sesuatu yang ditetapkan berdasar tradisi “sama belaka kedudukannya” dengan sesuatu yang ditetapkan berdasar al-Qur’an-Hadits). Kaidah fikih lain menyatakan, al-`adah muhakkamah (adat bisa dijadikan sumber hukum). 
         Alih-alih menghancurkan tradisi, tak jarang para ulama mengakomodasi budaya yang sedang berjalan di masyarakat. Tradisi sesajen yang sudah berlangsung lama dibiarkan berjalan untuk selanjutnya diberi makna baru. Sesajen tak lagi dimaknai pemberian pada dewa melainkan sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. 
Para ulama pun tak antipati terhadap simbol-simbol agama lain. Sunan Kudus membangun mesjid dengan menara menyerupai candi atau pura. Memodifikasi konsep “Meru” Hindu-Budha, Sunan Kalijogo membangun ranggon atau atap mesjid dengan tiga susun yang menurut Abdurrahman Wahid untuk melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim, yaitu iman, islam, dan ihsan.

Premis:
1. Islam Nusantara adalah wacana mengenai Islam dan budaya di Nusantara
2. Metodologi Islam nusantara adalah menerapkan hukum Islam dengan budaya lokal
3. Ada tiga metodologi, yakni Maslahah mursalah, istihsan, dan 'urf

Konklusi: 
    Islam nusantara merupakan suatu wacana dalam menerapkan Islam di Nusantara sesuai dengan budaya yang ada di Nusantara sendiri. Metodologi yang digunakan dalam Islam nusantara adalah maslahah mursalah, istihsan, dan 'urf.              Maslahah mursalah adalah maslahah yang tidak ada dalil syara' datang untuk mengakuinya  atau menolaknya. Istihsan adalah kecendurungan seseorang kepada sesuatu karena menganggapnya baik. 'urf adalah adat atau kebiasaan. 

Daftar Pustaka
Taufik Bilfaghi, ISLAM NUSANTARA; 
STRATEGI KEBUDAYAAN NU DI TENGAH 
TANTANGAN GLOBAL
Abdul Muqsith Ghozali, Metodologi Islam Nusantara
Tuti Munfaridah, ISLAM NUSANTARA SEBAGAI MANIFESTASI  NAHDLATUL ULAMA (NU) DALAM MEWUJUDKAN PERDAMAIAN
Gerakan Kultural Islam Nusantara

Read more